Tahukah kamu kalau jauh sebelum Proklamasi 1945, rakyat Nusantara sudah sering mengangkat senjata melawan bangsa asing? Bahkan, beberapa perlawanan itu terjadi ratusan tahun sebelum kita mengenal istilah “Indonesia”. Menariknya, perlawanan-perlawanan ini tidak hanya soal perang, tapi juga tentang mempertahankan jalur dagang, budaya, dan keyakinan.
Bayangkan, di abad ke-16 hingga ke-18, kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah menghadapi kekuatan Eropa seperti Portugis dan Belanda (VOC) yang datang dengan senjata modern dan strategi licik. Namun, semangat rakyat untuk mempertahankan kedaulatan membuat mereka tak gentar. Itulah yang membuat kisah perlawanan sebelum abad ke 19 ini begitu seru untuk dipelajari.
Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Portugis
Sebelum VOC hadir di Nusantara, Portugis sudah lebih dulu menjadi lawan tangguh yang dihadapi berbagai kerajaan di Indonesia. Kisah-kisah berikut menunjukkan bagaimana bangsa kita berusaha mengusir penjajah Eropa pertama yang datang ke tanah air.
Kesultanan Demak
Kesultanan Demak menjadi salah satu kerajaan pertama yang melakukan perlawanan Portugis. Latar belakang perlawanan ini berawal dari penguasaan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511 yang memutus jalur dagang penting bagi pedagang Demak. Dipimpin Pati Unus, Demak menyerang Malaka pada tahun 1512 dan 1521, walaupun gagal karena pertahanan Portugis yang sangat kuat. Namun, semangatnya menginspirasi perlawanan lainnya.
Kesultanan Ternate
Awalnya, hubungan Ternate dan Portugis berjalan baik, tetapi monopoli perdagangan rempah dan upaya kristenisasi membuat hubungan memburuk. Setelah Sultan Hairun dibunuh secara licik pada 1570, Sultan Baabullah memimpin perlawanan besar yang akhirnya mengusir Portugis dari Maluku pada 1575. Keberhasilan ini menjadi simbol kemenangan perlawanan bangsa Indonesia terhadap Portugis.
Kesultanan Aceh
Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda juga melawan Portugis di Malaka pada 1629. Walaupun serangan ini gagal, keberanian Aceh menunjukkan betapa gigihnya perlawanan Indonesia terhadap Portugis, terutama dalam mempertahankan perdagangan di Selat Malaka.
Perlawanan Sebelum Abad ke 19 terhadap VOC
Setelah Portugis melemah, datanglah kekuatan baru dari Eropa, yaitu VOC. Mereka hadir dengan kekuatan militer besar dan strategi politik licik. Mari kita lihat bagaimana kerajaan-kerajaan di Nusantara mencoba menantang dominasi VOC.
Kesultanan Mataram Islam
Sultan Agung dari Mataram memandang VOC sebagai ancaman terhadap ambisinya mempersatukan Jawa. Dua kali ia menyerang Batavia (1628 dan 1629), namun gagal karena masalah logistik dan wabah penyakit. Meski begitu, perlawanan ini menunjukkan skala besar konflik melawan VOC.
Kesultanan Gowa-Tallo
Makassar yang terbuka untuk semua pedagang menolak monopoli VOC. Namun, VOC bersekutu dengan Arung Palakka dari Bone dan berhasil mengalahkan Sultan Hasanuddin dalam Perang Makassar (1666–1669). Kesultanan Gowa dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya.
Kesultanan Banten
Sultan Ageng Tirtayasa menolak campur tangan VOC yang ingin menguasai perdagangan lada. Konflik internal dengan putranya, Sultan Haji, dimanfaatkan VOC untuk memecah belah kekuasaan Banten. Pada 1682, Sultan Ageng ditangkap dan Banten perlahan kehilangan kedaulatan.
Memahami Perlawanan oleh Bangsa Indonesia
Sejarah perlawanan sebelum abad ke 19 membuktikan bahwa semangat melawan penjajahan sudah ada jauh sebelum lahirnya pergerakan nasional. Baik melawan Portugis maupun VOC, para pemimpin Nusantara berjuang mempertahankan jalur dagang, keyakinan, dan tanah air.
Kalau kamu merasa kesulitan memahami detail perlawanan ini, les privat Sejarah bisa jadi solusi. Dengan tutor yang menyesuaikan materi sesuai gaya belajarmu, proses belajar jadi lebih seru dan mudah dipahami. Apalagi kalau memilih program di Executive Education, kamu bisa belajar dengan cara lebih hemat dan praktis, tanpa harus datang ke tempat kursus. Bayangkan belajar sejarah sambil berdiskusi santai, tapi tetap mendalam. Siapa bilang belajar Sejarah itu membosankan?
Rangkuman Singkat
- Contoh perlawanan sebelum abad ke 19 terjadi di berbagai wilayah Nusantara.
- Perlawanan Portugis terjadi di Demak, Ternate, dan Aceh.
- Perlawanan terhadap VOC dilakukan oleh Mataram, Gowa-Tallo, dan Banten.
- Latar belakang perlawanan meliputi monopoli perdagangan, ancaman budaya, dan intervensi politik.
- Semangat juang sudah ada jauh sebelum kemerdekaan.
10 Soal & Jawabannya
- Sebutkan alasan utama Kesultanan Demak menyerang Portugis di Malaka pada awal abad ke-16!
Karena Portugis memonopoli perdagangan di Malaka sehingga merugikan pedagang Demak. - Siapa pemimpin Kesultanan Ternate yang berhasil mengusir Portugis dari Maluku pada tahun 1575?
Sultan Baabullah. - Pada tahun berapa Kesultanan Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda menyerang Portugis di Malaka?
Tahun 1629. - Apa penyebab utama kegagalan Mataram dalam menyerang Batavia pada tahun 1628?
Kurangnya persiapan logistik. - Perjanjian apa yang ditandatangani Kesultanan Gowa setelah kalah dari VOC?
Perjanjian Bongaya. - Siapa tokoh Kesultanan Banten yang anti terhadap VOC namun dikalahkan karena politik adu domba?
Sultan Ageng Tirtayasa. - Apa latar belakang perlawanan Indonesia terhadap Portugis di Ternate?
Monopoli perdagangan rempah dan upaya kristenisasi oleh Portugis. - Sebutkan dua faktor yang membuat serangan Mataram ke Batavia pada 1629 gagal!
Wabah penyakit dan kekurangan logistik. - Kapan Portugis berhasil diusir dari Maluku oleh Kesultanan Ternate?
Tahun 1575. - Apa yang dimaksud dengan politik devide et impera yang dilakukan VOC?
Politik adu domba untuk memecah belah kekuatan lawan.
Baca juga: Kolonialisme dan Imperialisme Bangsa Eropa di Indonesia
