Apa itu Inflasi?

Inflasi, sebuah kata yang sering kali mencuat dalam pembicaraan ekonomi, memegang peran penting dalam membentuk dinamika perekonomian suatu negara. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi pengertian, jenis, penyebab, dampak, dan cara mengatasi inflasi secara mendalam. Mari kita memahami fenomena ini dengan lebih baik.

Pengertian Inflasi

Pengertian inflasi adalah kecenderungan kenaikan harga secara umum dan terus-menerus. Fenomena ini dapat mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat karena barang dan jasa menjadi lebih mahal. Dalam konteks sejarah Indonesia, inflasi pernah mengguncang negara pada sekitar tahun 1965, memaksa pemerintah mengambil kebijakan darurat untuk menyelamatkan perekonomian.

Menurut beberapa ahli ekonomi, Boediono (2005) mendefinisikan inflasi sebagai suatu kecenderungan kenaikan harga secara umum dan terus-menerus. Sementara Winardi (1998) menyatakan bahwa inflasi terjadi ketika kekuatan dalam membeli terhadap kesatuan moneter menurun, dan nilai uang yang beredar lebih banyak dibandingkan jumlah barang dan jasa.

Lehner (2006) memberikan pandangan bahwa inflasi adalah keadaan yang terjadi karena kelebihan permintaan terhadap barang-barang dalam perekonomian secara menyeluruh. Dari pendapat para tokoh ekonomi ini, inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga barang pokok karena ketidakseimbangan antara ketersediaan barang dengan permintaan masyarakat.

Jenis Inflasi

Terdapat tiga jenis inflasi yang dapat dilihat dari faktor laju kecepatan, parah-tidaknya, dan sumber inflasi.

Berdasarkan Laju Kecepatan

  • Inflasi Lunak (Wild Inflation)
    Kecepatannya kurang dari lima persen per tahun.

  • Inflasi Cepat (Galloping Inflation)
    Kecepatannya lima persen atau lebih per tahun.

  • Inflasi Meroket (Hyperinflation)
    Memiliki kecepatan lebih dari 10 persen per tahun.

Berdasarkan Parah-Tidaknya

  • Inflasi Ringan
    Terjadi di bawah 10 persen per tahun, belum mengganggu kegiatan perekonomian suatu negara dan dapat dikendalikan.

  • Inflasi Sedang
    Terjadi antara 10-30 persen per tahun, belum membahayakan, tapi sudah menurunkan kesejahteraan masyarakat berpenghasilan tetap.

  • Inflasi Berat
    Terjadi antara 30-100 persen per tahun, sudah mengacaukan ekonomi karena orang cenderung enggan menabung dan lebih senang menyimpan barang.

  • Inflasi Sangat Berat (Hyperinflation)
    Terjadi di atas 100 persen per tahun, mengacaukan kegiatan ekonomi negara dan sulit dikendalikan.

Berdasarkan Sumber

  • Inflasi Dalam Negeri (Domestic Inflation)
    Terjadi karena penciptaan uang baru dan kebijakan anggaran defisit.

  • Inflasi Dari Luar Negeri (Imported Inflation)
    Terjadi akibat impor barang atau jasa dari negara yang mengalami inflasi.

Penyebab Inflasi

Inflasi tidak terjadi tanpa sebab. Beberapa faktor yang menyebabkan inflasi antara lain:

  • Kenaikan Permintaan Melebihi Penawaran (Demand Pull Inflation)
    Inflasi terjadi karena naiknya permintaan total terhadap barang dan jasa.

  • Kenaikan Biaya Produksi (Cost Push Inflation)
    Kenaikan biaya produksi menyebabkan kenaikan harga barang.

  • Meningkatnya Jumlah Uang Beredar
    Jumlah uang yang beredar dalam masyarakat meningkat secara signifikan.

  • Berkurangnya Jumlah Barang di Pasaran
    Jumlah barang yang sedikit dipengaruhi permintaan yang tinggi menyebabkan harga naik.

  • Inflasi Dari Luar Negeri (Imported Inflation)
    Inflasi disebabkan oleh kenaikan harga barang impor.

  • Inflasi Dalam Negeri (Domestic Inflation)
    Pengeluaran pemerintah meningkat atau terjadi defisit anggaran.

Baca juga: Beda Ekonomi Makro & Mikro

Dampak Inflasi

Inflasi membawa dampak buruk pada perekonomian negara dan penghasilan masyarakat. Beberapa dampak tersebut antara lain:

  • Terhambatnya Pertumbuhan Ekonomi
    Kurangnya investasi dan minat menabung dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

  • Kesulitan Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
    Masyarakat berpenghasilan rendah kesulitan untuk menjangkau harga barang yang mengalami kenaikan.

  • Pengangguran Akibat Upaya Menekan Harga
    Upaya menekan harga untuk mengurangi inflasi dapat menyebabkan pengangguran.

  • Pilihan Menyimpan Barang Daripada Uang
    Masyarakat lebih memilih menyimpan barang daripada uang karena nilai uang turun.

  • Nilai Mata Uang Turun
    Kenaikan harga barang dapat menyebabkan turunnya nilai mata uang.

  • Kesenjangan Distribusi Pendapatan
    Masyarakat berpenghasilan rendah dan tidak tetap akan mengalami penurunan sehingga kesenjangan distribusi pendapatan melebar.

  • Hambatan Perkembangan Dunia Usaha
    Perkembangan dunia usaha dapat terhambat akibat ketidakpastian ekonomi.

Dapatkan pengalaman belajar Ekonomi yang maksimal dengan les privat Ekonomi Jakarta. Program kami dirancang untuk meningkatkan pemahaman konsep ekonomi secara mendalam. Tutor berpengalaman akan membimbingmu melalui materi lengkap & pendekatan personal. Jangan lewatkan kesempatan untuk meraih keunggulan akademis melalui les privat Ekonomi yang berkualitas di Jakarta.

Cara Mengatasi Inflasi

Indonesia dapat mengendalikan inflasi dengan berbagai cara, termasuk kebijakan moneter, fiskal, nonmoneter, dan nonfiskal.

Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter melibatkan Bank Sentral sebagai pemegang otoritas moneter untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar. Beberapa kebijakan moneter meliputi:

  • Politik Diskon (Discount Policy):
    Menentukan suku bunga untuk mengurangi atau menambah jumlah uang beredar.

  • Politik Pasar Terbuka (Open Market Policy)
    Membeli atau menjual surat berharga untuk memengaruhi jumlah peredaran uang.

  • Politik Cadangan Kas (Cash Ratio Policy)
    Menentukan jumlah cadangan kas minimum di bank umum untuk mengendalikan jumlah uang edar.

  • Kebijakan Kredit Selektif
    Memberikan pembatasan pada pemberian kartu kredit berdasarkan karakter, kapasitas, kolateral, modal, dan kondisi.

  • Kebijakan Dorongan Moral
    Melibatkan pengumuman, pidato, dan edaran untuk menahan atau melepaskan pinjaman dan tabungan.

Baca juga: Pentingnya Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari

Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal dilakukan pemerintah untuk mengatur pendapatan dan pengeluaran negara. Beberapa instrumen kebijakan fiskal termasuk:

  • Sistem Perpajakan
    Menaikkan atau menurunkan tarif pajak untuk memperkuat kas pemerintah atau meningkatkan konsumsi dan investasi perusahaan.

  • Politik Anggaran
    Anggaran berimbang untuk menyamakan pengeluaran dan penerimaan dalam APBN.

  • Pinjaman Pemerintah
    Menjual Surat Utang Negara untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan menekan laju inflasi.

Kebijakan Nonmoneter dan Nonfiskal

Kebijakan nonmoneter dan nonfiskal dilakukan tanpa memengaruhi jumlah uang yang beredar atau pendapatan dan pengeluaran negara. Beberapa bentuk kebijakan ini melibatkan:

  • Peningkatan Produksi
    Mendorong peningkatan produksi dan jumlah barang di pasaran.

  • Peningkatan Upah Riil
    Menaikkan upah riil dengan memperhitungkan inflasi.

  • Pengendalian Harga
    Menetapkan kebijakan harga maksimum untuk mengendalikan inflasi.

Kesimpulan

Inflasi adalah fenomena ekonomi yang kompleks dan memiliki dampak signifikan pada perekonomian suatu negara. Pemahaman mendalam tentang pengertian, jenis, penyebab, dampak, dan cara mengatasi inflasi menjadi kunci untuk mengelola stabilitas ekonomi.

Dengan melibatkan kebijakan moneter, fiskal, nonmoneter, dan nonfiskal, suatu negara dapat mencapai keseimbangan yang tepat untuk mengendalikan laju inflasi dan mencegah dampak negatifnya. Semoga pemahaman ini dapat membantu kita memandang inflasi sebagai tantangan yang dapat diatasi dengan pemahaman dan kebijakan yang tepat.

Scroll to Top